Fahrudin Ali, Akan Launching Shooting Perdana Film “Antara Lumpur Dan Kabut”.

Faharudin Ali

LOMBOKPreneur.com-Fahrudi Ali salah satu Sutradara dari Lombok yang pernah menimba ilmu di Institut Kesenian Jakarta  akan melauching shooting perdana film documenter, “Antara Lumpur dan Kabut”, di Dusun Limbungan Desa Perigi Kecamatan Swela Lombok Timur.

Film Dokumenter yang diperkirakan berdurasi 30 menit ini dipastikan dapat ditonton pada bulan Januari 2014, namun sebelumnya Film ini akan disaksikan langsung oleh Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) pada tanggal 15 Desember 2012 versi pendek yang berdurasi 2 menit dalam acara BCB di Museum NTB.

Film “Antara Lumpur dan Kabut”, adalah film dokumenter yang kontennya menyorot masalah pemberdayaan dan pendidikan kemandirian masyarakat terpencil.

Dalam shooting perdana ini akan langsung diresmikan oleh Kepala Museum NTB,Muhammad Fauzal dan pejabat terkait dari pemerintah provinsi  NTB.

Dusun Limbungan yang berjarak kira-kira 8 km dari kota Pringgebaye, termasuk daerah terpencil yang masih sangat minim pendidikan dan kesadaran kesehatan.

Fahrudin Ali berharap melalui produksi Film Dokumenter ini akan ada “dialog” intensif antara pemerintah dan warga untuk kondisi yang lebih baik.

Ia menuturkan di Dusun Limbungan ada ratusan perempuan perajin anyaman daun pandan yang membuat tikar tikar yang perlu diberdayakan oleh pihak terkait dari pemerintahan.

“Kerajinan tangan mereka perlu ditingkatkan menjadi kerajinan yang jelas pengelolaan dan pemasarannya dan sebagainya”tambahnyan.

Jadi lanjut Ali dalam konteks itulah film ini dibuat sebagai sosialisasi dan membantu menjembatani pemerintah dengan warga terpencil, agar ada perhatian yang semestinya.

Dipilihnya, judul “Antra Lumpur dan Kabut” karena karena melihat kehidupan di didusun limbungan sangat sederhana, warganya sangat kompak bergotong royong dalam segala hal. Seperti  memperbaiki rumah yang rusak, pesta atau acara roah (bahasa sasak), menggarap lahan pertanian, membawa warga yang sakit untuk berobat sampai biaya berobatnya.

Kehidupan demikian mereka lakukan dan tangani secara gotong royong, saling membantu tanpa pamrih, ramah dan penuh toleran.

Hanya saja budaya poligami dan dipekerjakannya sebagian besar anak dan perempuan di sawah dan lading masih menjadi tanya dan ganjalan di hati kita orang luar.

Namun hal demikian menurut mereka adalah tradisi dan budaya leluhur yang sudah turun temurun. sebagian kecil perempuannya yang masih aktif membuat kerajinan tikar pandan.

“Antara Lumpur Dan Kabut” Daerahnya berlumpur bila musim hujan telah tiba dan hampir setiap hari, sejak siang, kabut akan datang mengepung mereka.

“Lumpur” adalah simbol dari Realitas yang sulit mereka jalani, sedangkan “Kabut” adalah perlambang dari mimpi-mimpi mereka yang tak pernah bisa mereka sentuh seakan sulit menjadi kenyataan datang dan pergi entah ke mana.

 

Jemput Kesuksesanmu dan Yakini bahwa kesuksesan itu pasti menghampirimu... Jangan Menyerah Dengan Rintangan, Karena Rintangan adalah Jalan yang mendewasakan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>